Jumat, 19 April 2019

Kisah kemasyarakatan tentang syeikh siti jenar


SYEKH SITI JENAR

Konon saat menjalani hukuman mati, Syekh Siti Jenar tidak langsung meninggal dunia. Menurut kisah rakyat, Syekh Siti Jenar sempat empat kali hidup dan mati setelah keris Ki Kantanaga menghujam tubuhnya.

Syekh Siti Jenar diperkirakan berasal dari Baghdad dengan aliran Syi'ah Muntadar. Dia kemudian menetap di Pengging, Jawa Timur. Dari sana Syekh Siti Jenar mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebo Kenongo) dan masyarakat sekitar.

Namun ajaran Syekh Siti Jenar tidak disetujui para Wali Songo lantaran Syekh Siti Jenar menganggap dirinya menyatu dengan Tuhan. 

Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia hanya sebagai kematian, atau setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, dimana dia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, dianggap sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil qur'an, dan hadits.

Syekh Siti Jenar juga dianggap telah merusak ketentraman dan melanggar peraturan Kerajaan Demak.

Atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa wali ke tempat Syekh Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan Desa Krendhasawa), untuk menghukum mati Syekh Siti Jenar pada 1506 M.

Sebelum wafat, Syekh Siti Jenar sempat berpesan kepada para dewan wali atau Wali Songo bahwa kelak pada suatu zaman akan ada kerbo bule mata kucing (orang bule) naik dari laut. Itulah menjadi tanda musibah kepada anak cucu masyarakat Indonesia.

Ajaran Syekh Siti Jenar mempunyai efek khusus yang kita anggap sebagai insiden di antara pemuka-pemuka Agama Islam pada abad ke 16 M. Sebab ketika itu, lambat laun banyak orang-orang yang mengaji tasawuf/ hakiki mengikuti ajaran Syekh Siti Jenar, misalnya : perihal ilmu bedanya antara Kawula dan Gusti dan Tunggalnya Kawula dan Gusti.

Pengakuan Syekh Siti Jenar yang menganggap dirinya menyatu dengan Tuhan membuat Wali Songo di Jawa menggelar sidang menyikapi ajaran Syekh Siti Jenar. 

Dalam sidang tersebut, Sembilan Wali sepakat menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar. Syekh Siti Jenar saat itu pun menyetujui putusan tersebut dan meminta agar hukuman segera dilaksanakan. 

Saat itu, berdasarkan kesepakatan para wali, yang bertindak sebagai algojo adalah Sunan Kudus dengan keris Ki Kantanaga yang diberikan oleh Sunan Gunung Jati.

Eksekusi mati terhadap Syekh Siti Jenar berlangsung di halaman Masjid Agung Cirebon secara terbuka, sehingga semua masyarakat dapat menyaksikan eksekusi tersebut.

Menurut cerita rakyat pula, sebelum eksekusi berlangsung, sempat ada kejadian mencengangkan. Yakni saat keris Ki Kantanaga dihujamkan ke tubuh Syekh Siti Jenar, terdengar suara keras seperti beradunya kedua besi yang sangat besar.

Lalu para wali saling tersenyum sambil berkata, "Masak ada Allah seperti besi?!".

Syekh Siti Jenar kemudian menjawab, "Coba, tusuklah sekali lagi!"

Ketika tusukkan kedua, Syekh Siti Jenar menghilang tidak ada wujud jasadnya.

Para wali berkata kembali, "Masak matinya Allah seperti itu, seperti matinya syetan..?!"

Secepat kilat Syekh Siti Jenar menampakan diri kembali, sambil berkata, "Coba tusuk sekali lagi!"

Ketika tusukan ketiga, Syekh Siti Jenar membujur tergolek di lantai masjid, dari lukanya keluar darah merah, dan para wali berkata kembali, "Masak matinya Allah seperti matinya seekor anjing..?"

Pada saat itu Syekh Siti Jenar bangun, hidup kembali tanpa luka dan berkata, "Coba tusuk sekali lagi!"

Kemudian pada tusukan keempat, Syekh Siti Jenar rebah, mati, dan dari lukanya mengalir darah putih. Seketika itu, para wali berkata kembali, "Masak matinya Allah seperti matinya cacing?!".

Karena berkali-kali tusukan selalu mati, hidup, mati, hidup, maka Syekh Siti Jenar berkata, "Lalu harus bagaimana mati saya menurut keinginan Anda?" 

Dan dijawab oleh seluruh wali, "Biasa saja. Seperti orang tidur yg badannya lemas, begitulah mati bagi seorang Insanul kamil..!"

Sesudah itu, ditusuklah jasadnya dan wafatlah Syekh Siti Jenar seperti umumnya manusia. Namun keanehan tetap terjadi, tiba2 jasad beliau mengecil sebesar kuncup bunga melati dan baunya semerbak mewangi bau harumnya melati. (Wallahu A'lam Bisshawab).

Ada juga kisah kebenaran tentang syekh siti jenar KLIK DISIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar